Labels

Tuesday, March 15

Binar, pada akhirnya kau menyerah. Cahayamu kau redupkan saat aku butuh penerangan, saat dirimu sendiri perlu kau hangatkan. Kamu mati. Iya kau, bukan aku. Engkau yang memilih bunuh diri, dan membunuhku. Harapanku dan harapanmu. Setan apa yang kau persilahkan masuk begitu dalam ke pikiranmu?

Mungkin benar apa kata orang, kalau jodoh sudah disiapkan Tuhan, tapi bagiku, jodoh itu hanya masalah waktu kapan akan berjodoh, sedangkan dengan siapa, kitalah yang tetap mengusahakan. Kau percaya itu?

Binar, kini aku hanyalah persinggahan yang pernah kau huni, lalu kau tinggalkan setelah cukup bagimu kau hidup didalamnya. Seperti itulah aku yang kini dihadapanmu. Sudah jadi kenangan. Iya, kenangan yang akan kau sesali, sebab kesalahanmu sendiri. Sebab kau memilih dengan melihat, bukan merasakan. Sebab kau meninggalkan demi yang fana, bukan yang nyata.

Ibarat kata, aku ini "terbaik", hanya saja kau keliru "membacanya". Bahkan mengejanya pun kau masih terbata. Kau tidak salah, Binar. Hanya saja kau keliru! Keliru yang begitu besar!

Kau tahu boomerang? Seperti itulah prinsip kehidupan. Tapi, aku heran, kenapa itu tak kau berlakukan padaku? Aku beri kau kebaikan, dan keburukan yang kudapat darimu. Demi Tuhan, Binar. Aku tak mendoakanmu berbagai keburukan bisa secepatnya menimpamu. Tapi, sungguh boomerang yang kau lempar, akan berbalik kepada tuannya. Kesakitan, kekecewaan dan kesedihan yang kau beri, akan kau dapatkan kembali. Tuhan memang Maha Adil. Ingan itu, Binar,

Aku pernah tak punya pikiran untuk meninggalkan, tapi kau menginginkannya. Bukan cintaku yang kau bahagiakan, tetapi kau menorehkan masa lalu di dalam kotak kelam. Kau menambah daftar panjang kesakitan, kekecewaan, dan lukaku atas nama cinta dan kesetiaan. Kini, kau jadi bagian dari mereka. Membukakan bekas yang pernah menganga, yang susah payah aku sembuhkan dan kubalut dengan doa penuh keikhlasan atas pengkhianatan.

No comments:

Post a Comment