Labels

Thursday, February 18

Untuk Binar...

Untuk Binar sayang...

Binar, gadis ini masih ingin selalu menatapmu dengan tiada jarak. Aku masih ingin menikmati terik mentari yang menusuk lewat jendela kaca kamar kita nanti. Aku ingin dibisikkan ucapan selamat pagi dan penggalan kalimat sayang yang kau ucapkan lewat bibir manismu. Akan ku buatkan kau segelas susu cokelat hangat dan sebutir telur mata sapi yang paling kau suka. Akan kusiapkan kemeja putih, jas hitam, dan sepatu hitam untukmu, dan tak lupa kukencangkan dasi yang masih belum rapi di kerah bajumu.

Binar, aku adalah wanita yang kau cinta selama 3tahunmu yang penuh dengan suka dan duka. Tanganku sudah terbiasa digenggam olehmu, kening dan bibir ini selalu betah saat kau kecup dengan hangat. Dan, hati ini, akan selalu dan selalu ingin kau sayangi hingga kau tak berdaya. Bagiku, kau bagai camar yang datang dan pergi kemanapun kau suka, tetapi kau akan selalu pulang; kepadaku.

Hari-hari yang kujalani denganmu sungguh tak akan aku lupakan. Dalam setiap detik, tak pernah aku lupa pada kata, senyum, tawa, dan gurauanmu yang membuat simpul semyum di bibir manisku. Kau membuat hidupku bahagia, apalagi jika tubuhku sudah kau rengkuh erat, seakan waktu ingin ku hentikan, sejenak memandangmu, merasakan hatimu yang menyayangiku.

Binar, apakah ada hal yang tak kau ketahui tentang hidup? Cinta? Aku yakin kau pasti tahu, tapi apakah kau pernah dengan sangat mencoba memahaminya? Jika kau bertanya padaku, seperti apa cintaku padamu, kau salah. Sudah pasti kau seharusnya paham tentang itu. Meskipun aku tahu, banyak cacat yang ada pada dirimu, namun aku tak memperdulikan itu. Biarkan aku yang memperbaikinya, karena begitulah seharusnya kau terbentuk sempurna; denganku.

Binar, Tuhan mempertemukanmu denganku, ku kira hidupku akan jadi "baru", dan kau adalah anugerah untukku, bahkan sampai saat ini. Kita akan jalani hidup berdua hingga menua dan habiskan umur bersama. Kupikir itulah rencana Tuhan untuk kita. Tapi... Kini, aku bagai camar, yang tertahan didalam sangkar. Inginku terbang, bersamamu, namum apalah daya, aku hampir mati. Binar, tolong aku! Bukankah sudah lama kau inginkan ini? Inginkan kita terbang tinggi jauh melawati dunia?

Tuhan, Yang Maha Cinta, pemberi cinta pada hamba-Nya, hatiku begitu pengap oleh keadaan ini. Lelaki yang kau rencanakan untuk bertemu denganku, kini jadi api yang menyulut-nyulut. Perlahan membakar hatiku. Tak kenal permisi, namun tak patut berpisah. Ia jadi luka yang menganga-nganga di batas hatiku. Ia jadi pelana yang tak mampu jadi penopang. Dan akhirnya kini kita hanyalah tatapan nanar yang inginkan pelangi setelah badai. 

Binar sayang, sejujur-jujurnya aku inginkan kau ada di sepanjang hidupku, begitu pun kau yang inginkan aku mendampingimu, mendidik anak-anakmu menjadi sosok wanita yang kuat dan tegar di hari dan waktu-waktumu. Kita bagai air hujan yang sengaja dijatuhkan; jatuh dan jatuh. Terus jatuh, dan akan selalu jatuh, tanpa sadar, ia datang dari tempat yang tinggi dan berproses dengan sangat panjang, sampai jadilah ia hujan, yang sejenak menggantikan panas, meredamkan bumi, membasahi daun, merebakkan bau basah, dam memekarkan bunga-bunga.

Sesekali aku suka bertanya pada diriku sendiri, apa Tuhanmu tahu apa yang sesungguhnya kau inginkan? Binar, aku adalah wanita yang masih menunggu jawaban dari Tuhanmu lewat hati dan tuturmu. Karena hanya itu yang bisa aku dan kau lakukan. Aku masih memelihara cinta dan keyakinan padamu. Aku masih menjaga kata "bahagia" itu untukmu. Cepatlah "pulang", aku hampir "mati" menunggumu "disini". Doaku semata untuk aku dan kau. Sesungguhnya Tuhanku Maha Tau, Maha Mendengar, dan yang Maha Mengabulkan. 

No comments:

Post a Comment