Labels

Wednesday, February 1

Madre for Aulia

Ini sengaja aku buat temenku si aulia yang penasaran setengah mati sama buku Madre-nya mbak Dewi Dee Lestari. Hehehe, maaf ya kalau bahasanya alay dan galau hahaha.

Madre itu buku antologi yang isinya karya mbak Dewi dari tahun 2006 sampai 2011. Kumpulan cerita disini bener-bener exited and colorfull. Bahagia, sedih, mengharu biru sampai hal-hal konyol yang bikin ketawa pembaca, kaya aku ini. Hehehe. Kemasan ceritanya simple dan ngena. Bahasanya juga gampang dipahami. Semua tema masuk: cinta, persahabatan, nilai hidup, kebenaran, kesetiaan, konsistensi, dll.

Beberapa chapternya kaya Madre, Perempuan dan Rahasia, Have You Ever, Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, Guruji, Menunggu Layang-layang, itu bikin aku lupa daratan. Hehehe.

Kisah Madre
Madre itu nama biang dari sebuah adonan roti yang turun temurun diwarisi sama keluarga Tansen untuk toko rotinya “Tan de Bakker”. Tansen sendiri adalah cucu dari Tan Sin Gie, ayahnya ibunya Tansen, Kartika, yang mengalir darah Tionghoa dan India [waktu kau baca itu, kau sempet mikir, pasti cakep deh si Tansen itu, ya gak ul? Hahaha]. Dia diwarisi Madre buat meneruskan usaha kakeknya itu lewat surat wasiat yang ditulis sebelum meninggal.

Ditengah kegalauannya mikir tentang asal muasal keluarga, marga, dan keturunannya, pak Hadi, kawan kakeknya sekaligus orang yang nyimpen Madre di toko Tan de Bakker yang vacum itu, ngasih Madre ke Tansen yang bikin tambah geleng-geleng kepala.

Tapi pak Hadi tetap berusaha buat ngasih pengertian dan keyakinan sama Tansen, kalau dia emang orang yang tepat dipilih kakek dan Madre-nya. Seiring berjalannya waktu, Tansen sadar kalau hidupnya emang ditakdirkan buat “ngurusin” si adonan Madre.

Selama berproses, Tansen ketemu sama cewek, namanya Mei. Diam-diam, Mei suka baca blogg punyanya Tansen. Dia exited sama cerita-cerita yang dutulis Tansen di blognya. Mei adalah pengusaha muda yang nerusin bisnis roti dari ayahnya. Dulu, dia juga punya biang, namanya “Yeye”. Tapi, biang itu rusak gara-gara waktu biangnya diatas meja, gak sengaja ditabrak pake sepeda waktu Mei kecil. Jadi Mei paham gimana galaunya Tansen waktu Mei nawarin buat menjual Madre ke Mei.

Dari pertemanan dan kerjasama itu, ada cerita yang nyelip disitu. Pak Hadi iseng-iseng godain Tansen sama Mei. Setiap ada pertemuan buat bahas bisnis nasib Tan de Bakker, pak Hadi suka bikin bingkisan roti dan dikasih ke Mei, bilangnya dari Tansen, padahal roti yang ada didalamnya buatan pak Hadi sendiri.

Seiring berjalannya waktu dan proses Tansen bergalau-galau sama Madre, dia kaya nemuin haluan hidup lain, kalau dia emang harus hidup di kubangan Jakarta yang jauh beda sama Bali, tempat dulu dia menetap. Bersama Madre, bersama Mei, Fairy Bread. Perinya.

Selesai. Baru chapter 1 loh. Gimana ul, cukup kan ceritanya dari aku, selengakpnya baca sendiri yah. Gak seru kalau diceritain tau. Hehehe. See?? Grab it! Happy reading for ya, girl…