Labels

Friday, February 10

Empat Tempat

teruntuk teman sepermainan dari berbagai penjuru: Ani, Tin-tin, Arif dan Sugi.
            Kita pernah mengelilingi ilalang di padang sana. Di sebuah kota yang penuh rencana dan agenda. Diantara candu dunia dan giringan hidup yang pekat. Menikmati bisikan angin yang mengaburkan luka. Di sesaknya tumpukan rumah disudut ibukota yang gersang akan alam. Kata orang, ini namanya kumbang Tuhan, yang suci tak boleh untuk mainan.

Kita suka membiarkannya berjalan di telapak tangan dan merambah ke lengan lalu ke kepala. Rambut kita disulapnya macam ilalang itu, bergoyang terhempas angin. Tak jarang berebut kumbang Tuhan itu. “aku mau yang merah!”, “jangan! Yang ini incaranku, kau yang disana saja!”, “dapat! Punyaku merah cokelat loh…lihat!”. Kita sering melakukannya sampai senja beranjak dari barat.

            Ingat kan dengan penjual buah di pojok pertigaan dulu?! Kita suka mampir sekedar mencium tangan bapak tua itu sebelum sampai disekolah, dan menciptakan lapar kedua dengan aroma buah jambu dan mangga yang harumnya menyeruak menyengat hidung. Dia selalu bilang “hati-hati menyeberang jalannya, Nak. Jalanan ramai. Sesekali jalan yang benar, tak usah kejar-kejaran begitu. Hehehe. Selamat belajar ya”. Serempak kita melambaikan tangan sambil melempar senyum sumringah khas anak-anak semasa kita.

Terik pukul 12 tak melelehkan semangat untuk kembali berritual: kejar-kejaran sampai gerbang sekolah. Kita ini umpama lalat yang sopan tak menghinggapi roti panggang untuk sarapan, dan bermetamorfosa menjadi kumbang “pesawat” yang berkejaran di udara jika senja mulai datang.

Bagaimana kabar ayunan kayu kokoh didepan rumah Arif ya? Masih diayun angin ataukah sudah berpencar menjadi tambang dan dudukan kayu sendiri? Semoga ia tak sedih karena lama sudah tak kita kunjungi. Semoga pohon rambutan itu
tak cepat tua dan membuat ulah jika bukan kita sendiri yang menciptakannya; dan gegabah. Kita seperti liliput yang ingin punya badan besar sehingga bisa menggapai apapun yang tak bisa. Makin tinggi makin semarak.

Maaf Ani, aku mengayunnya terlalu semangat hingga kau tersungkur dengan tubuh kecilmu yang terluka. Kau memukulku dengan senyum dan titik-titik hujan disudut nanar matamu. Tahu aku melakukannya, karena aku suka rambut hitam lurusmu yang kau biarkan tergerai setiap kali bermain ayunan. Anginnya menyisir lembut menyeludup disetiap helainya, dan tawamu sampai kepalamu mendongak. “Ucap basmallah sebelum main ayunan, anak-anak”. Dasar orang Arab!

            Ingat pula sungai jernih didekat rumah Sugi? Jikalau ingin ke villa sebelah, kita harus melewati sungai kecil yang berbatu dan 5 jejer bambu tua yang memutih dan reot. Kata orang disana ada buaya. Buaya siapa yang lepas dan dibiarkan berenang indah di sungai tempat mencipakkan kaki-kaki kecil kita? Itu buaya yang sengaja dibuat oleh makhluk bumi; makhluk pembual yang suka membendung tawa makhluk berpoles dosa yang belum menggunung.

“masa? Itu buaya nyasar kali ya…”. Kita akan turun dengan berlari ke sungai, lalu sengaja menginjakkan kaki diatas 5 ruas bambu itu dengan semangat. Alih-alih menggoda buaya. “lihat aku! Berani kan! Gak ada buaya disini tau. Hahaha. Ayo keburu adzan! Nanti pak ustadz maraaaah…!”

Kita yang seperti tak kenal lelah. Kita yang diadu seperti ayam kampung oleh para pembesar. Dibiarkan berdarah dan tetap berkokok di kala pagi akan menyingsing. Kini, seperti apa kita ini? Aku ingin tahu satu per satu dari kalian. Satu dasarawsa sudah kita tak melakukannya bersama. Kita sempat melakukan hal yang sama. Yang sama, yang melewati jarak, yang menjuru dan yang tak dirasa.

No comments:

Post a Comment