Labels

Friday, January 20

Wanita Payung Senja

(disuatu warung kaki lima, di pinggir jalan sembari pulang)

Hujan mengecup syahdu wajahnya, tadi pukul empat-tiga puluh 
Langkahnya menyeruak memecah tenang gobangan air
Memadu klasik sandal cokelatnya ber-hak 2 centi meter
Senyumnya mengiring sepi diri, tak bertepi
Tak membatasi 
Menyusuri gang-gang dikumuli jiwa-jiwa Tuhan-Nya
Ia selalu suka berkutat dengan ranah
Wanginya semerbak merajuk si Kristal-kristal kecil

Pukul empat-empat dua
Payung Senja
Merah kuning berlukis jangkung-jangkung kelapa khas pantai
Menyapa sayup kepada kain biru
Kepada hati, kepada jiwa, kepada nanar matanya
Kaki bersihnya basah
Sisa hujan membasahinya dan langkah itu mengotorinya
Dan sandal 2 centimeternya itu
Ia melangkah dengan bercak-bercak itu, dan bergumam
"sang penyair itu sudah berani menduakanku rupanya"

 Lima-lima puluh lima.
Bergegas mempersatu doa
Sudah waktunya 'bercinta'

Didalam mangkuk, setengah potong jeruk kuning ini trerendam
Serat dan bulirnya tak berbentuk
Aapalah namanya, senja terlihat seperti setengah potong jeruk yang bulirnya menganga
Meluka
Apalah namanya, dirinya bercermin di kobangan yang bergelombang
Terpecik langkahnya sendiri
Terpantul senja dari barat laut jantung kota. senja hanya separuh sinarnya
Menggores sebelah gurat manis senyumnya 
Menyelurup ke kehangatan
Menembus iris kulit tubuhnya karena menengadah
Payungnya seper-delapan terbaca 

Lima-nol, berpayung senja
Ia temukan senja.