Labels

Wednesday, January 18

Sekolah Pasar

(sepulang dari pasar) 2.42 p.m
Setelah 6hari dirumah, ini hari terakhir aku (bertemu) dengan keluarga dan tetangga sekitar rumah. Aku sengaja main ke pasar tradisional dekat rumah. Pasar yang sering aku hampiri semasa SD dulu. Aku suka dengan keramain. Aku suka berjalan-jalan dipasar yang ramai seperti itu. aku bertemu banyak orang dengan wajah masing-masing. Aku bertemu dengan wajah-wajah lama, 2tahun yang lalu sebelum aku hijrah untuk kuliah dan wajah baru yang mungkin sudah lama disini juga, entahlah. Bising deru angkutan umum, transaksi jual-beli, tawar menawar sudah tidak asing lagi.

Cuaca siang itu panas karena sebentar lagi akan turun hujan. Aku mulai bergerumul dengan para penjual buah, sayur, bahan kebutuhan pokok seperti beras, gula, bumbu dapur, makanan ringan sampai jajanan pasar yang sudah lama aku tidak mencicipinya. aku mulai bergerumul bersama mereka. aku menyusuri setiap sudut pasar itu dengan bau keringat, panas, dan tentunya kaki yang suka tersandung karena jalan yang tidak rata.


Sesekali aku berhenti untuk melihat barang yang menarik, tetapi enggan aku membelinya. Hanya saja, aku suka iseng bertanya.“Ibu, gelas kaya gini berapa ya?”, “pak, ini warnanya apa aja ya? Ada motif lain gak?”. Beruntung jika tidak kena semprongan beberapa penjual “gimana mba? Gak jadi beli, gak usah kesini! Udah nanya kok gak jadi beli”


Aku juga suka memperhatikan tawar menawar antara penjual dan calon pembeli. Bisa aku bilang, itu kegiatan seru. Tak ada yang menegur atau memarahi jika kita ikut campur selama transaksi itu berlangsung.

masa segitu, bu..kurang deh, masa gak boleh”
“ gak bu, udah pas harga segitu, itu juga untungnya cuma 500, bu…”
“ah, si ibu…500 kalo nanti laku banyak kan untungnya jadi banyak juga, bu…hehehe” (sambil senyum-senyum, aku terus mengikuti mediasi pasar itu)

Langkahku terhenti melihat ibu berkeranjang menjajakan jajanan pasar yang aku kira sudah tidak ada yang mau membuatnya. Cenil namanya. Bentuknya seperti gundu, berwarna-warni; merah, hijau dan putih. Dibuat dari tepung kanji. Cara memakannya dengan mencampurkan parutan kelapa dan gula pasir. Rasanya kenyal dan manis. Terakhir aku memakannya waktu SMP, tepatnya aku lupa, bahkan SD.

Aku membeli dua bungkus sebagai camilan nanti dirumah. Aku kembali menyusuri pasar hingga ujung. Dulu, disebelah utara pasar, ada pasar kambing dan ikan. Setiap hari pasaran, Rabu dan Minggu, banyak orang-orang dari kecamatan sekitar yang membawa kambing-kambingnya untuk dijual disini. Dan untuk yang ingin menjual ikan, mereka biasanya menggelar dagangannya disebeah pasar kambing. Tetapi sekarang sudah tidak beroperasi. Pasar ikan sudah dipindah ke daerah dekat pasar tradisional itu atas kebijakan kepala desa setempat.

Pasar sekarang disesaki oleh para penjual bahan makanan, keperluan rumah tangga (dapur), mainan dan baju. Sebagian besar penjual yang membuka kios disana kenal denganku. Aku dikenal karena orang tuaku juga orang pasar. Dulu aku suka bermain di pasar sehabis pulang sekolah sambil membantu mereka berjualan, menimbang barang sampai berbobot kwintalan. Menginjak SMP, aku sudah jarang mampir ke pasar. Aku malu.

Sekarang justru aku merindukan suasana itu. riuh pedagang, ibu-ibu yang menuntun anaknya agar tidak terdesak dengan yang lain. Yang membuat pasar itu sangat terasa adalah beberapa pedagang yang selalu menyapaku ketika aku berjalan melewati kios mereka atau sekedar tegur sapa. “eh tika, pulang kapan tika? Tinggi banget ya sekarang, kurusan. Dulu liatnya masih kecil. Sekarang sudah kuliah, tambah cantik”

Tukang sapu pasar yang dulu aku lihat, ia masih muda, kulitnya hitam dengan mengalungkan handuk kecil ke lehernya, suka menggodaku, sekarang ia terlihat sedikit tua, kulitnya lebih bersih, tetapi handuk dilehernya masih sama seperti dulu.

Ojek pasar. Semua mengenalku sejak aku suka mampir ke pasar. Waktu SMP, aku punya langganan ojek untuk mengantarku pulang kerumah. Setiap aku pulang dari Semarang, pasti mereka menyapaku lebih dulu. “oh tika pulang. Libur ya dek. Bapak udah nunggu dari tadi tuh…”. Yang lain biasanya menyambung dengan senyum kecil saja.

Itu sapaan yang sering aku dapatkan. Mereka mengingatkanku agar tidak lupa dengan masa laluku. Aku suka malu sendiri. orang tua menegur lebih dulu. Dari sini, aku bebas berlari ke masa laluku. Salah satu refleksi hidupku.

Kegigihan kuli panggul jadi pesuruh, kesabaran tukang becak mencari calon penumpang, kerja keras penjual menjajakan dagangannya, mencari pelanggan dsb. Pusaran kehidupan yang kacau dan penuh saing sengit didalamnya. Aku pernah hidup disana. Pasar tradisional itu “menyehatkan” pikiran.