Labels

Friday, December 9

Senja dan Kulit Durian


Senja 5 Desember 2011 membawa ingatanku kepada keluarga dirumah. Rintik hujan dari angkasa yang kelabu itu membasuh pipi gembulku. Sudah tak terlihat lagi, mana hujan, mana sedihku. Semua tumpah mengalir di garis wajah sendu ini. Sepulang menambah koleksi ilmu di kampus, aku cepat-cepat pulang ke tempat bernaungku di Semarang. Entah alasan apa yang membuatku ingin cepat beranjak dari sana, dan tak paham dengan jalan pikiranku saat itu. Aku percepat langkahku menuju kost. Sesampainya di kost, aku tak ingin masuk kamar terlebih dulu. Aku ingin menikmati senja senju itu sendiri. aku seperti kakak tua bertengger di sangkar dan dinyanyikannya beberapa lagu dari si empunya. Kepalaku menari-nari mengikuti irama yang mengalun. Aku tak ingin beranjak dari sangkarku. Aku tengadahkan kepalaku ke angkasa yang kosong itu. Menatap kelam awan yang pecah dan muram. Senejak diam. Aku membuka buku kecil bercorak kuning bergaris. Aku biasa menulis catatan kuliahku disitu karena aku paling malas kalau harus membawa buku banyak-banyak, tebal dan berat. Lagipula
tak akan kubaca dikelas, kecuali kalau memang dosensering membahasnya. Aku ingin menulis dan berbagi. Aku ingin berpuitis bersama runtutan hujan yang tak deras-deras juga. Seperti tahu kalau aku sedang tak ingin hujan menambah pasukannya menyerbu tanah bumi. Karena akan menambah deras airmataku jatuh. Aku mulai menggores kasar pen ku. Abstrak dan tak menentu. Kadang garis lurus, melingkar, atau hanya sekedar pusaran air ditengah badai laut. Aku mulai menemui jiwaku. Aku tulis sedikit bait puisi.

Untuk Gadis Yang Merindukan Hujan
Dia, yang telah menahan semua hina dan duka jiwa
Sungguh jari jemari itu memeluk punggung telapakku
Betapa aku bisa merasa
Merasuk kedalam nanar mata kacaku
Betapa ia, bahkan jari jemarinya menyayangku sepenuhnya
Aku ingin menjadi hujan
Hujan dihalaman rumah
Rumahku
Dihatiku

Rinduku makin memuncak. Tak biasanya aku merindu seperti ini. Aku teringat keluargaku, terutama ibuku.
Iya, Ibu! Aku tak dekat dengan ibuku, tak seperti anak-anak lain yang begitu saling sayang. Terkadang aku iri dengan teman-temanku. Disaat mereka sedang bercerita tentang keluarga atau sekedar sharing tentang apa yang mereka bicarakan dengan ibu, seketika aku kecil. Hilang. Aku seperti tak ada didunia ini. Tak sadar, mereka mengajakku kembali ke masa itu. Saat mereka kecil dan berproses dengan pelukan hangat cinta dan sayang dari sosok ibu dihidup mereka, sedangkan aku hanya bisa membayangkan seberapa bahagianya bercengkrama dengan wanita terkuat dan paling diagungkan didunia itu. Aku beranjak dari tempatku mengadu. Aku masuk ke kamar. Aku letakkan tas kuliahku diatas meja dan berbaring. Aku menagis sendiri dikamar. Kupeluk bantal guling yang kubawa dari rumah untuk meredam jerit tangis senjaku. Aku melihat ke atas, hanya kulihat langit-langit kamar berwarna cream ini. Gelap dan kosong. Disana, aku membayangkan wajah ibuku. Sudah hampir dua bulan aku tak pulang ke rumah.

Aku teringat, aku memasang foto kecilku diatas rak: aku, ibu, dan bapak. Bapak memeluk ibu, ibu memelukku dan aku tersenyum girang dipeluk ibu. Kami bertiga tersenyum bahagia di foto tua itu. Aku menagis tertahan melihatnya. Aku baru sadar, tenyata bapak adalah sosok yang tegas. Kumis tipisnya menambah manis senyum yang terurai di bibirnya. Pantas saja ibu jatuh hati pada bapak. Dengan kaos pitih dan celana hitam panjang, ia terlihat gagah dan penyayang. Ibu, ia begitu cantik dengan bibir merah, rambut lurus, segi pendeknya dan baju tidur hijau bermotif bunga. Ia terlihat kurus tapi tegar.  Dan aku, aku tertawa bercampur tangis melihat aku yang dulu, yang masih tak tau dunia, masih 4tahun. Aku memakai baju tidur berwarna pink dengan kantong ditengahnya. Rambut lurus sepundak dan poni rata dahi, aku terlihat lucu. Sembari senyum meringis, aku terlihat lebih cantik dari ibu.Senang bukan kepalang aku berfoto bersama mereka. Aku dipeluk ibu sangat erat. Tanganku memegang tangan ibu. Sungguh aku rindu mereka ada ditengah-tengah hidupku yang kurasa lelah sekali aku memikulnya sendiri dan tertatih aku berjalan.

Gambar usang itu masih ada ditangan dan masih betah kupandang sembari merintih menahan tangis. Anganku terbang kembali saat aku kecil dulu. Ibu kurang suka dengan sikapku yang satu ini. Aku suka meminta dibelikan durian. Entah itu musin atau tidak, kalau aku sedang ingin makan durian, tak usah berlama-lama, aku langsung minta dibelika. Kebetulan bapak suka sekali dengan durian. Aku berpikir, bapak sudah mewariskan sifatnya yang membuat ibu terkadang tidak suka, karena ia sering tak kebagian jatah durian. Aku dan bapak saja yang menghabiskan. Dan benar saja, kalau sedang musim, tak minta pun, bapak sudah paham dengan ritual kami berdua. Kami suka ngumpet dan kucing-kucingan dengan ibu. Aku tidak diperbolehkan ibu untuk makan durian banyak-banyak karena takut anak perempuan satu-satunya ini sakit, akan menambah pengeluaran bulanan dan mengurangi jatah uang belanja. Bapak biasa membeli durian sampai 3buah hanya untuk aku dan bapak. Sehabis memamerkan durian, aku bisa jingkrak-jingkrak senang bukan kepalang, tetapi tak jarang pula aku menarik-narik baju, memukul tangannya dan memarahi lirih “bapak, kenapa beli banyak sekali duriannya. Nanti kalau ibu tahu, bisa kena marah kita!” aku memandang mata bapak sambil manyun.Dengan enteng saja ia membalas “sudah, kita makan satu saja, yang ini kita simpan untuk ibu. Jadi besok kita makan sedikit saja ya…”. Aku hanya bisa tersenyum simpul sambil menutupi mulut kecilku dengan tangan halusku.

Tak sadar, hujan sudah berhenti bermain-main dengan tanah bumi. Akupun lelah bernostalgia dengan masa kecilku dulu dan masa dewasaku sekarang. Memoriku sudah terlalu sesak dan sakit untuk mereplysemuanya. Sehabis maghrib, aku putuskan untuk keluar membeli makan. Perutku sudah berdemo didalam sana karena seharian aku belum memenuhi haknya. Aku keluar ditemani sisa-sisa hujan tadi sore. Sandal tipisku jadi sedikit basah dan kakiku lembap. Setibanya di tempat aku membeli makan, aku pesan nasi goring pedas kesukaanku. Aku melihat sekeliling sembari berpikir aku akan pulang lewat mana, jalan semula aku berangkat kesini atau akan cari jalan lain. Aku suka berputar-putar. Aku ingin melihat kesana, apa yang belum pernah aku lihat dan aku coba. Aku sering berangkat kuliah lewat gang biasa aku lewati dan pulang lewat gang lain, asal bisa sampai ke kost. Semua itu aku anggap sebagai trip yang menyenangkan. Aku jadi tahu jalan-jalan yang belum pernah aku lewati dan sering membuat aku tertawa sendiri sepanjang special trip-ku itu.

Setelah aku mendapatkan pesananku, aku beranjak melangkahkan kakiku ke jalan yang bukan jalan sebelumnya aku lewati. Aku memutar arah,  melewati pintu utama kelurahan. Kelurahan Karang Tempel namanya. Baru sekian langkah aku mengayunkan kakiku, aku melewati sebuah becak yang penuh dengan kulit durian dan beberapa kantong karung putih. Tak cukup penerangan disitu, hanya terkena pantulan cahaya lampu dari kantor utama kelurahan. Dengan samar, terlihat seorang bocah dengan kaos cokelat dan celana pendek abu-abunya sedang berdiri didekat kantong putih berisi kulit durian pula. aku pikir ia sedang membantu pekerjaan bapaknya untuk memungut, membereskan dan mendorong becak tua yang sudah kelebihan muatan itu. Otakku berputar, darimana bapaknya mendapatkan kulit durian sebanyak itu. Tak mungkin kalau hanya dari satu tempat saja, apalagi disini kompleks mahasiswa dan perumahan Chinese yang kebanyakan lebih memilih makan di resto daripada harus memasak dan bergulat dengan asap dapur.

Aku penasaran dan kuhentikan sejenak langkahku demi bocah laki-laki itu. Ia masih sibuk membereskan kulit-kulit penuh duri itu dan mataku tak mau berkedip memperhatikannya. Rasa lapar tak kurasa. Sampai akhirnya rasa penasaranku terjawab. Bocah itu ternyata sedang mencari sisa biji durian yang masih bisa dimakan, ia berharap ada sedikit sisa daging durian terlewatkan oleh para penyantap sebelumnya. Ia mengais kedalam karung dan memnemukannya. Satu, dua, tiga, sampai lima aku menghitungnya secara teliti. Aku tertegun melihat bocah malang itu. Diam dan miris rasanya. Sepertinya ia tersadar akan kehadiranku disekitarnya. Akupun bergegas kembali menelusuri jalanku. Tak seorangpun tahu ia siapa. Sesampainya di kost, aku sudah kehilangan selera untuk menyantap nasi goreng kesukaanku. Pikiranku masih bersama bocah itu. Rasa rinduku pun seakan hilang. Lenyap tertelan miris akan dirinya. Tertusuk perih oleh kulit berduri itu. Sayamg, aku tak sempat menunggu ia beranjak dari becak tua itu, akupun tak tahu si empunya becak itu. Andai saja ada plat nomor beach, pasti akan aku ingat-ingat supaya lebih mudah aku menemukannya.

Senja kedua pasca bocah kulit durian itu, aku jadi lebih sering membeli nasi goreng di kelurahan dengan harapan aku bisa bertemu dengan bocah laki-laki itu. Dua, tiga senja berlalu. Sudah tiga hari aku tak melihatnya, hanya ada becak tua itu, berbeda dan kosong. Tak mungkin aku bertanya pada penjual sekitar kelurahan karena pasti jawabannya tidak tahu. Masih teringat jelas raut wajah marahnya pada Tuhan yang telah memberikan ia kehidupan yang tak seorangpun mau menerimanya. Dan mata lelahnya yang jarang tidur demi serauk makan untuk menyambung nafas sehari kedepan. Begitu seterusnya. Kini, setiap senja, aku selalu melihat foto bapak, ibu, aku dan bocah durian itu.

Aku merindukan mereka.

2 comments:

  1. Yeah!
    Terkadang mahasiswa memiliki pola pikir yang sama, rindu rumah.
    Tapi, senja terlalu indah untuk sekedar berkeluh kesah.
    Biarkan aku membacanya, dan kemudian membuatku seolah-olah pernah bertemu denganmu.
    :-)

    ReplyDelete
  2. bertemu di sela senja yang sendu :)
    thanks for reading, Sang Penikmat Matematika

    ReplyDelete