Labels

Saturday, December 3

Sendu Malam

Disudut riuh ini, aku melihat mereka bersenda gurau dengan tawa dan riangnya. Disudut kiri, aku melihat sorot mata seorang wanita merona dengan penuh cinta, senyum lembut dari bibir merahnya membuat lawan bicaranya tak memberi waktu untuk sekejap berkedip menatapnya. Bergairah. Deru angin malam makin mengintimkan mereka saja. Helai-helai jatuh keatas alis hitam legamnya dan membawa beribu sayang kepada dunia. Bulan pun bersambut, balas tersenyum karena kasih-Nya. Sang pujangga merengkuh jari jemarinya dengan hangat, lembut tak berirama, beradu dengan bibir merah itu, tenang tak bersuara. Mataku terus memandang. Penuh kasih dan cinta. Waktu ini terasa begitu lama, tak segera berlalu. Iya untuk mereka. Menyelam dalam, mendengar celoteh mereka pun aku tersenyum. Menyenangkan. Banyak cinta diantara mereka, semoga diantara kita. Ah, apa yang aku pikirkan saat ini. Hanya merindu. Entahlah, jiwa ini serasa sendu mengingatnya.

Semakin larut malam ini, mega makin menghitam, menutup diri dariku. Sepertinya ia mengerti apa sedang aku singgahi kali ini. Kawan malamku makin menerobos raga, aku larut bersamanya. Baiknya ku pejamkan saja mata cokelat ini sembari kudengarkan dengan seksama, masih dengan celoteh genit mereka. Aku terbawa angan, angan tentang dirimu. Tersadar senyumku mengembang, malu sendiri jadinya, hanya bisa tersimpul malu. Sepertinya mereka akan meninggalkanku untuk sesuatu yang tak akan aku mengerti.. Ya, tak apa walau aku masih sangat ingin melihat mereka saling memberi cinta dan membaginya kepadaku. Malam-malamku indah meski sendiri. tak tahu juga kenapa, begitu aku rasa indah dijiwa. Sepertinya hatiku sudah terlalu penuh cinta. Hah, lucu aku memikirkannya, dirimu.


No comments:

Post a Comment