Labels

Sunday, December 11

KANTOR “DOT” BIRU

Selama aku di kota metropolitan itu, ayah lebih banyak menghabiskan waktu di kantornya. Bapak bekerja di perusahaan yang bergerak di Jasa konsultan finance. Multi Sentra namanya. Perusahaan bapak dipimpin oleh orang asli India. Aku pernah mengajak bapak untuk main ke kantornya, tapi karena itu tak mungkin, jadi aku hanya lewat saja. Gedungnya megah, besar, tinggi menjulang. Puncak gedung itu berbentuk mirip “dot” anak kecil. Mungkin cenderung seperti gelas anak kecil yang punya 2 pegangan di kanan dan kiri agar lebih mudah untuk minum, susu khususnya. Aku tertraik untuk mengunjungi kantor bapak, sebagai tempat bapak mencari uang untuk aku dan ibu.

Suatu malam, aku melihat-lihat kalender kantor bapak dan dengan muka penasaran,
aku bilang “pak, gedungnya bapak kaya ‘dot’ yang dibelikan ibu. Bagus ya, atasnya lucu. Aku pengen masuk. Ajak ya pak…”. Sambil merengek, bapak iba melihat muka jelekku dan bilang “iya dek, kapan-kapan bapak ajak kamu masuk ke kantor bapak itu, tapi di parkiran depan saja ya.”. ibu hanya tersenyum kecut mendengar obrolan kita malam itu. Aku mengangguk-angguk saja dengan tawaran bapak itu. Setiap ada libur kantor, bapak suka mengajak aku dan ibu untuk pergi berwisata. Bukan wisata, lebih ke refreshing di akhir pecan. Entah itu belanja di pasar, mall atau sekedar bermain di kids playground dekat rumah. Aku senang jika bapak mau meluangkan waktunya untukku, biasanya tak pernah. Jangankan berlibur, untuk makan malam pun, bapak sambil menggarap pekerjaan kantornya. Aku pusing sendiri melihat banyak tumpukan kertas yang tidak jelas isinya apa, yang pasti bukan perkalian, penjumlahan atau pengejaan kalimat “I-ni i-bu Bu-di”.

“bu, minggu ini kita mau diajak bapak kemana ya??” dengan muka bersinar.
“ibu nggak tahu, dek. Coba Tanya sendiri ke bapak, tuh..”. sambil melirikkan matanya ke bapak yangs edang duduk didepannya, aku berpindah tempat duduk disebelah bapak. Sambil memegang lengan kokhnya, aku bilang
“pak, besok mau jalan-jalan kemana? apa ke kantor bapak yang kaya ‘dot’ itu? Jangan-jangan iya, habis bapak nggak mau bilang sih..”. sembari konsentrasi dan membolak-balikkan kertas-kertas itu, ia hanya menjawab
“iya lihat saja besok, pastinya kita mau keluar minggu ini.”. girangnya hatiku mendengarnya. Aku langsung bilang ke ibu kalau bapak akan mengajakku main ke kantornya.

Semalaman aku memikirkan tentang kantor “dot” bapak berwarna biru itu. Aku melihat bapak dan ibu yang sudah pulas dan sepertinya sedang melanglang buana, berkeliling dunia sebagai bulan madu kedua mereka. Aku yang terbaring diantara mereka hanya tersenyum-senyum dan tak bisa tidur.

Aku gugup. Anak TK yang kagum dengan bangunan buatan tangan-tangan kasar dan merengek untuk bisa masuk kesana dan melihat apa, siapa dan bagaimana orang-orang didalamnya bekerja. Selama ini aku hanya bisa orang-orang kantoran bekerja, duduk manis diruangannya sendiri-sendiri, penuh sekat, komputer, tumpukkan kertas, berkacamata dan yang pasti dasi panjang mereka yang membuat segar penampilan. Aku hanya bisa melihat di televisi Goldstar 14in di sudut ruang tamu kontrakan kami. Aku pernah membuat bapak marah karena dasi kesayangan yang berwarna silver gold dengan motif garis menyamping itu aku ambil untuk aku pakai dirumah, ya sekedar untuk main-main saja.

“itu mau bapak pake, dek. Sini jangan buat mainan!”
nggak mau, mau aku pake dirumah, pak..”
“nanti rusak. Sobek. Bapak belinya susah itu!”
“ibu…bapak mau minta dasinya. Bapak pake yang lain lah, banyak kaaan.”
Dengan muka garang “dek! Awas kalo nanti malam main ke rumah monic!”.

Aku sambut dengan tekukan muka dan mata berkaca. Perdebatan aku dan bapak pagi itu seperti beo dan bebek. Bapak nagkring diatas sambil berceloteh dan aku santai dengan menggoyang-goyangkan bokongku sambil berbunyi “kwek-kwek-kwek”. Pagi itu ada jadwal meeting dengan orang kantor dan dasi itu adalah lambang kebesarannya. Walau dia hanya seorang bawahan bos Indianya itu, bapak begitu percaya diri jika memakai dasi kesayangannya. Ibu hanya bisa menghela napas melihat dua orang yang dia cintai berdebat dasi di pagi hari dan sedikit mengganggu tetangga kontrakan.

Pagi yang aku tunggu datang juga. Mentari sungguh menyambut minggu pagiku dengan cerah. Aku sudah tak sabar ingin menyambut teman-teman senasib dengan bapak disana. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap. aku melihat bapak memakai kaos biru, celana pendek dan mengelap sepatu olahraganya. Aku bingung dengan kelakuan bapak itu, sedangkan ibu dengan santainya membuat minum untuk bapak dan menjemur pakaian dibelakang. Aku jadi bertanya-tanya, bapak tidak memanasi motornya untuk kita pakai dan apa bapak percaya diri ke kantor dengan penampilan seperti itu, dasi yang tak cocok dengan kemeja saja, dia seperti orang kebakaran jenggot. Ah mungkin saja bapak dan teman-teman kantornya ada acara olahraga bersama ke Ancol minggu ini, jadi dia berpakaina olahraga seperti itu.

Matahari semakin tinggi saja, bapak terlihar semakin bergegas. “ayo dek, kita jalan sekarang. Ibu gak ikut karena mau masak yang enak sepulang kita nanti.”. aku  santai saja mengikuti omongan bapak yang mencurigakan itu. Kami saling berpegangan tangan dan perlahan meninggalkan kompleks kontrakan. Jalanan ramai banyak tetanggak kompleks yang jogging on weekend bersama keluarga. Tak sedikit juga yang bersepeda bersama kawan-kawan. Mualilah aku berlari-lari kecil bersama bapak. Aku masih santai menikmati riuh pagi itu dan tak sabar membebaskan rasa penasaranku akan kantor “dot” biru itu. 5menit berlalu tiba-tiba bapak berhenti dan menyeter tanganku berbelok kea rah villa tempat biasa warga kompleks berolahraga menghabiskan pagi dengan menyehatkan diri: jogging memutar villa, senam, sepak bola, volley, lompat tali, bersepeda, atau sekedar jalan-jalan menghirup udara segar.

Sekejap aku memendam marah ke bapak.bapak tidak menepati janjinya. Aku ngambek.
“bapak! katanya ke kantor bapak, kok ke villa sih…!”
“loh, bapak kan bilang, iya kapan-kapan dek..” dengan nada sabar, bapak meladeni kemarahanku.
“tapi bapak bilang mau kesana! Kenapa bapak nggak bilang aja kalau kita ke villa minggu ini! Aku mau pulang!” airmataku sedikit tumpah.
“sudah, bapak sengaja nggak bilang ke kamu karena pasti kamu kecewa. Bapak paham sifat kamu itu, dek. Ehm, bapak belum cerita ya, sebentar lagi anak bos bapak yang pernah bapak ceritakan itu, masih ingat kan?!” bapak memegang pundakku erat-erat dan aku berusaha untuk mengingat-ingat. Diam sejenak.
“nah, dia mau ulang tahun bulan ini. Kamu pasti diundang dan perayaannya dikantor bapak yang kaya “dot” kamu itu. Jadi ntar kamu bisa jalan-jalan di kantor bapak. muter-muter sampe bosen juga nggak apa-apa.”
Bapak mencoba menengangkanku dengan iming-iming ulang tahun anak bos’y dari India itu. Ah, aku sangat penasaran dengan kantor bapak itu. Setiap malam, aku hanya bisa memandangi kalender kantor bapak bergambar gedung “dot” biru dibulan Januari itu. Tak sengaja aku mendengar obrolan bapak dengan ibu diruang tamu ketika aku sedang menonton televise.

“bu, anakmu kok kaya gak pernah liat gedung aja, ngotot mau ke kantor, ya mana bisa, masa jam kantor ngebiarin dia keluyuran, apalagi jam lembur. Tak mungkin sekali.”