Labels

Saturday, December 3

Hujan di Hatiku

Teraskost.28.22.2011. 05.47pm.

Semarang sore hujan, dinginnya tak terlalu menusuk raga, tak terlalu mengusik kegelisahan jiwa pula. Embunnya mengalun bersama deru lembut angin, anak hujan riang bertengger dicelah bumi. Andai saja pelagi dating bersama riuh gemuruh penguasa angkasa, pasti mata tercengang betapa pintarnya Sang Pencipta. Sweater brown yang membalut tubuh tegar ini akan menemaniku sampai aku bertemu raja pagi dan akan kusambut dengan senyum kemenangan atas hidupku. Gelap sekali mega malam ini, hanya kulihat sedetik saja kilat cantik menari diatas ingatanku atas dirimu. Iya dirimu yang aku rindu bersama senyum terhangat yang pernah aku tatap dengan pasti. Masih saja dengan riuh hujan, aku terus berlalu bersama angan akan diriku sendiri: iya diriku sendiri. Larut. Sendiri. aku tersadar, inilah jawaban atas kerinduanku padamu. HUJAN. Iya, aku sangat suka hujan. Ia membawa engkau ke arus jiwaku. Semakin hangat saja hati ini, tenang dalam dekapan ragaku sendiri dan menyatu dalam dekapanmu. Hujan masih menemaniku disini, denganmu.


Aku begitu tenang menikmati malamku ini. Loncatan hujan makin menyemangatiku untuk tetap mengenangmu dalam duniaku. Lama sudah rasanya tak kulihat sambut riang dan senyum manismu. Aku sedang menikmati chocolate donut sebagai pengganti nasi setelah seharian beradu dengan nafsu. Dan aku menang. Iya akan seperti apa nantinya, aku akan tetap menjadi pemenang atas diri dan hidupku. Rombongan embun mulai merangkak berpindah dan beradu menerobos raga kedepan mata. Kacamata minus 1 ½ ini berintik lembut. Aku usap dengan sweater nan lembutku.
Dekat pintu, aku menatap gagah lampu sorot atas gedung kampus tercintaku. Merah kuat memancar. Jendela kacaku berpeluh. Aku satukan saja jari-jariku kesana, akan kubuat segores makna didalamnya. Makna yang hanya aku saja yang tahu, bahwa aku merindukan sosok itu. Indah sekali, aku mataku menembus riuhnya hujan dan sinar kokoh lampu. Tipis berarah lembut jatuh ke bumi. Sungguh sedari tadi, kenapa tak usai juga jiwa ini beradu. Mencecar lubuk yang tak aku  mengerti. Entah kemana saat ini kau berada. Tak ada raga, setumpuk semangatmu tetap disana, ternyata.


Aku ingat saat Yogjakarta. Saat semua hidupku terasa berganti. Aku temukan makna hidup disana, terlalu banyak. Seseorang yang telah dikabarkan Tuhan untuk menjadi seperti “malaikat” pembawa kabar gembira untukku. Ialah yang meyakinkanku bahwa semua yang terjadi di diriku adalah aku, dan yang terjadi di dunia adalah Tuhan. Aku meyakini itu semalam suntuk, ketika mata sembapku sudah terlalu lelah dan layu, ragaku lemah dan jiwaku “sakit”. Dekapan sayangnya begitu terasa, rebahanku semakin tegar saja, makin dan makin tegar. Diriku meyakini sebuah keimanan akan sebuah nasib yang aku lukis sendiri. Aku percaya Tuhan memberi yang terbaik kepada ciptaan-Nya. Aku melihat raut sendu tetapi kuat didalam jiwanya, dan aku merasakannya. “kau tidak sedang bermain peran, kan?!” belalak mata’y mebuat mataku semakin berkaca dan pecah. Ia mengalir deras memendam diri kedalam diriku. Aku bagai ditampar angin nyiur yang sepoi dan tajam, sakit kewajah gelisahku. Aku terjaga hingga malam temukan paginya. Aku tak bisa mengingkari, sosok itu sangat kuat! Kita bercerita segala apa yang ada dihidup ini. Ia berlari cepat keranah hidupnya sendiri, sangat semangat! Aku dekat dengan matanya. Aku dekat dengan telinganya. Aku dekat dengan hidungnya. Aku dekat dengan mulutnya. Aku merasakan nafas yang menggebu melantunkan cerita syahdu itu. Kudukku protes oleh ceritanya, entah kenapa, begitu saja terjadi. Aku membaur saja dengan dunianya. Sangat menyenangkan.


Hujan ini mulai lelah menari didepanku, sepertinya akan segera menyingkir dan meninggalkan aku bersama sosoknya dalam hidupku. Aku harus bersiap untuk  berdiri sendiri tentunya, tetapi tak akan aku singkirkan ia yang ada dibelakangku. Aku merasa kuat sekuat-kuatnya diriku menghadapi hidup dari yang telah berlalu. Dan sosoknya sudah punya tempat sendiri, melebur dengan bisik-bisik jiwa yang tegar ini.

No comments:

Post a Comment